Tuesday, December 18, 2012

ARTIKEL ANALISIS INVESTASI DAN MANAJEMEN PORTOFOLIO. ( REVIEW JOURNAL FROM SUKARNO,2007)

PEMBENTUKAN PORTOFOLIO OPTIMAL SAHAM MENGGUNAKAN MODEL INDEKS TUNGGAL
Adevi Sabath Sofani
121010001
Blog : adevisofani.blogspot.com
Program studi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Ma Chung Malang
2012
 

ABSTRACT
Rational investor will invest their funds in efficient stock which provides high expected return with minimum risk. This research covers securities which have liquid in terms of trading frequency and give dividend yield for three years. The main purposes of this research are to ascertain the optimal portfolio and the differences of return and risk portfolio candidates with non-candidates.
This research results showed that there were fourteen stocks of portfolio candidates from thirty-three stocks researched with the cut-off-rate (C*) of 0.0165. And three of fourteen stocks which have the biggest excess return to beta (ERB) make up the optimum portfolio: Astra International Inc. (AALI) and Perusahaan Gas Negara (PGAS) with excess return to beta (ERB) of 0,86% and 0,37% respectively. The optimum portfolio comprises 48, 54% far AALI and 51,46% for PGAS stock with a return portfolio of 0,072%, portfolio risk of 0,196% and excess return to beta portfolio of 0,61%.
In conclusion, rational investors will invest their funds in optimum portfolio comprises AALI and PGAS stocks because that stocks become a portfolio candidates in different period for consistently. Empirical evidence indicates a significant difference in return of fourteen stocks as portfolio candidates with nineteen stocks as portfolio non-candidates. The fourteen stocks candidates have higher mean of return (24,43) than the nineteen stocks non-candidates (11,53).

Keywords: Single Index Model, portfolio candidates, optimal portfolio, expected return, excess return to beta, cut-off-rate.

1. PENDAHULUAN
Investasi merupakan suatu bentuk penanaman modal baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan berinvestasi maka para investor berharap mendapatkan keuntungan atau manfaat lain dari hasil investasi tersebut. Pembelian efek atau surat berharga di pasar modal melalui bursa efek merupakan salah satu cara dalam berinvestasi yang dapat menjadi pilihan bagi para investor. Pasar modal merupakan salah satu penggerak perekonomian negara karena pasar modal merupakan sarana pembentuk modal dan akumulasi dana masyarakat untuk menunjang biaya pembangunan. Pasar modal memiliki daya tarik tersendiri karena dengan berinvestasi di pasar modal akan memungkinkan para investor memiliki berbagai pilihan investasi sesuai dengan preferensi risiko masing-masing. Selain itu, pasar modal memiliki kelebihan pada likuiditas dalam pilihan investasinya, contohnya saja investor dapat melakukan investasi hari ini pada industri sektor keuangan lalu keesokkan harinya melakukan investasi pada industri sektor perdagangan dan jasa. Hal tersebut tidak mungkin dapat dilakukan apabila investor berinvestasi pada real assets. Peran investor sendiri sangat penting dalam proses berlangsungnya kehidupan perusahaan. Semakin besar investor menginvestasikan dananya dalam bentuk saham perusahaan, maka semakin besar pula peluang perusahaan untuk berkembang dan meraih pasar. Selain itu, semakin besar investor  mengivestasikan dananya maka semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh oleh investor dan risiko yang akan diperolehnya.
Hal terpenting dalam kaitannya dengan investasi adalah sikap investor untuk memilih dimana akan menginvestasikan dananya.  Agar dapat meminimalkan risiko dalam investasi saham di pasar modal, investor dapat melakukan portofolio (diversifikasi) saham yaitu dengan melakukan investasi pada banyak saham sehingga risiko kerugian pada satu saham dapat ditutup dengan keuntungan pada saham lainnya. Untuk mengetahui saham mana yang memiliki tingkat keuntungan yang tinggi dengan risiko tertentu serta bagaimana meminimalkan risiko tersebut maka perlu dilakukan analisis portofolio terlebih dahulu agar dapat membantu investor dalam mengambil keputusan dan menentukan portofolio mana yang paling efisien yang mempunyai return (tingkat keuntungan) yang diharapkan besar dengan risiko tertentu, atau yang mempunyai risiko terkecil dengan return yang diharapkan dari portofolio yang dibentuk. Masalah yang sering terjadi adalah ketika investor berhadapan dengan ketidakpastian saat harus memilih saham-saham untuk dibentuk menjadi portofolio pilihannya. Tentu jawaban singkat atas pertanyaan tersebut adalah tergantung preferensi risiko para investor itu sendiri. Investor berhadapan dengan banyak kombinasi saham portofolio dan harus mengambil keputusan portofolio mana yang akan dipilih oleh investor. Seorang investor yang rasional tentu akan memilih portofolio yang optimal (Jogianto,2003). Untuk membentuk portofolio yang optimal, investor harus menentukan portofolio yang efisien terlebih dahulu.
Portofolio yang efisien adalah portofolio yang menghasilkan tingkat keuntungan tertentu dengan risiko terendah atau risiko tertentu dengan tingkat keuntungan tertinggi (Husnan, 1998). Sedangkan portofolio optimal merupakan portofolio yang dipilih oleh investor dari sekian banyak pilihan yang ada pada kumpulan portofolio yang efisien (Tandelilin, 2001). Untuk menganalisis portofolio, diperlukan sejumlah prosedur perhitungan melalui sejumlah data sebagai input tentang struktur portofolio. Salah satu teknik analisa portofolio optimal yang dilakukan oleh Elton dan Gruber (1995), adalah menggunakan model indeks tunggal. Analisis atas sekuritas dilakukan dengan membandingkan excess return to beta (ERB) dengan Cut-off rate-nya (Ci) dari masing-masing saham. Saham yang memiliki ERB lebih besar dari Ci dijadikan kandidat portofolio, sedang sebaliknya yaitu Ci lebih besar dari ERB tidak diikutkan dalam portofolio.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka investor yang rasional akan menginvestaikan dananya dengan memilih saham yang efisien, yang memberikan return maksimal dengan risiko tertentu, atau return tertentu dengan risiko minimal. Untuk menghindari atau memperkecil risiko, investor melakukan strategi diversifikasi atas investainya dengan membentuk portofolio optimal saham yang terdiri atas saham yang efisien.


2. LANDASAN TEORI
Teori portofolio menggunakan asumsi bahwa pasar modal adalah efisien (efficient market hypothesis). Pasar modal efisien artinya bahwa saham merefleksikan secara menyeluruh semua informasi yang ada di bursa (Reilly and Brown, 2003).
Return Portofolio saham merupakan hasil atau keuntungan yang diperoleh investor dari setiap alternatif investasi, dan dapat berasal dari:
1. Yield adalah return yang merupakan komponen dasar dari suatu investasi, berupa cash flow yang diterima secara periodik dan biasanya disebut dividen. Besarnya yield bisa positif, nol atau negatif.
2. Capital Gain atau capital loss adalah return yang diperoleh investor yang berasal dari perubahan harga aset-aset yang dipegangnya. Apabila perubahan harga tersebut positif maka disebut capital gain, sedangkan bila perubahan harga tersebut negatif disebut capital loss.
Risiko adalah kerugian yang dihadapi oleh para investor (Fabozzi, 1995). Risiko merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak menguntungkan (Brigham and Weston, 1990). Risiko juga didefinisikan sebagai kemungkinan penyimpangan atau variabilitas actual return suatu investasi dengan expected return (Elton dan Gruber, 1995).
Tujuan investor dalam berinvestasi adalah memaksimalkan return, tanpa melupakan faktor resiko investasi yang harus dihadapinya. Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan merupakan imbalan atas keberanian investor menanggunnng resiko investasi yang dilakukan. Hubungan tingkat resiko dan return yang diharapkan merupakan hubungan yang bersifat searah dan linier. Artinya semakin besar risiko suatu aset, semakin besar pula return yang diharapkan atas aset tersebut, demikian sebaliknya. Berikut merupakan kurva hubungan risiko dengan return yang diharapkan pada berbagai jenis aset yang dapat dijadikan alternatif investasi.
Model Indeks Tunggal dalam pembentukan portofolio sebagai salah satu metode pengukuran kinerja portofolio menurut Elton dan Gruber (1995) adalah pengukuran dengan suatu parameter yang dikaitkan dengan tingkat risiko (one parameter performance measure) seperti The Treynor Ratio, The Jensen Ratio dan The Sharpe Ratio. Model indeks tunggal memiliki kesamaan dengan The Treynor Ratio yang mengukur kinerja portofolio berdasarkan besarnya return premium yang dihasilkan oleh tiap unit risiko sistematis yang diukur dengan beta.
Salah satu prosedur penentuan portofolio optimal adalah model indeks tunggal. Metode indeks tunggal menjelaskan hubungan antara return dari setiap sekuritas individual dengan return pasar. Konsep penghitungannya didasarkan pada model perhitungan Elton dan Gruber (1995) yaitu dengan cara menentukan ranking (urutan) saham-saham yang memiliki ERB tertinggi ke ERB yang lebih rendah. Pemeringkatan bertujuan untuk mengetahui kelebihan return saham terhadap return bebas risiko per unit risiko. Saham-saham yang mempunyai excess return to beta (ERB) sama dengan atau lebih besar dari cut-off-point (C*) merupakan kandidat dalam pembentukan portofolio optimal. Bawasir dan Sitanggang (1994) menjelaskan bahwa metode indeks tunggal dapat digunakan dalam penentuan portofolio optimal dengan cara membandingkan excess return to beta (ERB) dengan cut-off-rate (Ci). Excess return to beta (ERB) merupakan kelebihan return saham atas return aset bebas risiko (risk free rate) yang disebut dengan return premium per unit risiko yang diukur dengan beta. Cut-off-rate (Ci) merupakan hasil bagi varian pasar dan return premium terhadap variance error saham dengan varian pasar pada sensitivitas saham individual terhadap variance error saham.

3. PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian Indrawati (2005) juga menggunakan model indeks tunggal untuk membentuk portofolio yang efisien, yaitu portofolio yang terdiri dari saham-saham teraktif yang dibagi dalam dua periode dan mempunyai Excess Return to Beta tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara nilai beta dengan frekuensi keaktifan saham tidak menunjukkan hubungan searah (negatif). Hal ini berarti nilai beta yang besar tidak selalu menunjukkan frekuensi perdagangan saham tersebut tinggi atau sebaliknya.
Hasil penelitian Wahyudi dan Hartini (2000) yang menggunakan model indeks tunggal dengan membentuk indeks pasar sendiri (securities selection) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara beta dengan return saham. Hasil penelitian juga menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara excess return to beta saham dengan return rata-rata saham di masa mendatang dan hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Indrawati. Kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa analisis portofolio dengan cara membandingkan antara excess return to beta dengan cut-off-point terbukti dapat diterapkan di Indonesia walaupun dalam kondisi krisis jika pembentukan indeks pasar dengan selection
portfolio sudah tepat.
Bawasir dan Sitanggang (1994) menggunakan Cut-off Rate dalam memilih saham untuk membentuk portofolio optimal dengan batas efisiensi C*. Penelitian memfokuskan pada pengujian perbedaan pilihan portofolio antara investor domestik dengan investor asing. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara investor domestik dengan investor asing dalam pemilihan saham pembentuk portofolio optimal. Investor domestik dan investor asing tidak memilih saham dalam batas efisisen C* untuk membentuk portofolio. Rasionalitas investor dilihat dari cara mereka menentukaan portofolio optimal, yang dipengaruhi oleh preferensi investor terhadap return dan risiko.
Sudana dan Janiarti (2000) meneliti tentang pengaruh ukuran portofolio terhadap tingkat diversifikasi saham, membandingkan antara portofolio saham dalam satu industri dengan portofolio saham beragam industri dengan model indeks tunggal. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi diversifikasi pada portofolio saham satu industri tidak berpengaruh secara signifikan. Demikian pula portofolio saham beragam industri tidak terpengaruh oleh diversifikasi, kecuali portofolio 8 saham. Terdapat perbedaan yang signifikan antara portofolio saham dalam satu industri dengan beragam industri.
Musnadi, Muhammad dan Sulaiman (2001) menganalisis manfaat diversifikasi portofolio saham antar industri di BEJ berdasarkan pada besarnya koefisien korelasi return antar saham. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa diversifikasi saham antar industri di BEJ memberikan manfaat yang signifikan bagi investor. Risiko yang ditanggung investor menurun 0% - 12% apabila investor melakukan investasi saham di berbagai industri.
Irwin dan Landa (2000) menggunakan teori portofolio untuk menentukan proporsi dana yang paling efisien jika investor ingin berinvestasi pada real estate, future dan gold. Dalam penelitian ini juga dapat diketahui pengaruh banyaknya instrumen investasi terhadap kinerja portofolio yang dibentuk dengan menambahkan satu instrumen investasi berupa Bill, Bond dan Stock.

4. METODA PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang didasarkan atas survey terhadap objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) selama periode pengamatan 2004-2006 berjumlah 339 perusahaan. Pemilihan sampel data dilakukan secara purposive sampling. Sampel dari penelitian ini adalah saham perusahaan terdaftar dan aktif diperdagangkan di BEJ selama tahun 2004-2006, perusahaan yang selalu membagi dividen selama periode tahun 2004-2006, dan perusahaan yang sahamnya tidak mengalami stock split, right issue, reverse stock, dan saham baru listing.  Penelitian ini menggunakan data harga penutupan saham (closed price)pada setiap akhir bulan periode tahun 2004-2006. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dari sumber terpercaya yaitu PT Bursa Efek Jakarta (BEJ/ Pojok BEJ), JSX Monthly Statistics, Indonesia Capital Market Directory (ICMD) serta berbagai literatur untuk penggunaan hasil penelitian yang dibutuhkan.


5. TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis data dilakukan dengan menggunakan model indeks tunggal untuk menentukan set portofolio efisien. Langkah-langkah yang akan dilakukan untuk menentukan portofolio efisien dengan model indeks tunggal adalah sebagai berikut.
1.      Mendeskripsikan perkembangan harga saham, IHSG dan SBI.
2.      Menghitung realized return, expected return, standar deviasi dan varian dari masing-masing saham individual, IHSG dan SBI.
3.      Menghitung beta, alpha dan variance error masing-masing saham
individual.
4.      Menghitung nilai excess return to beta (ERB) masing-masing saham. Nilai ERB diperlukan sebagai dasar penentuan saham yang menjadi kandidat portofolio. Nilai ERB yang diperoleh diurutkan dari nilai yang terbesar ke nilai yang terkecil. Saham-saham dengan nilai ERB lebih besar atau sama dengan nilai ERB di titik C* merupakan kandidat portofolio optimal.
5.      Menghitung nilai Ci. Nilai Ci adalah nilai C untuk saham ke-i yang dihitung dari akumulasi nilai-nilai A1 sampai dengan Ai dan nilai-nilai B1 sampai dengan Bi. Nilai Ci merupakan hasil bagi varian pasar terhadap kelebihan pengembalian lebih besar dari pada RFR terhadap variance error saham dengan varian pasar pada sensitivitas saham individual terhadap variance error saham.
6.      Mencari nilai C*. Besarnya C* adalah nilai Ci yang terbesar. Saham-saham yang membentuk portofolio efisien adalah saham-saham yang mempunyai ERB lebih besar atau sama dengan ERB di titik C*.
7.      Menentukan proporsi dana yang akan diinvestasikan dalam portofolio efisien.
8.      Menentukan korelasi dan covariance saham-saham pembentuk portofolio.
9.      Menghitung expected return, standar deviasi dan varian dari portofolio.




6. PENGUKURAN VARIABEL
a.  Realized Return (Rt) adalah persentase perubahan harga penutupan saham A pada bulan ke t dikurangi harga penutupan saham A pada hari ke t-1 kemudian hasilnya dibagi dengan harga penutupan saham A pada hari ke t-1.
 
b.  Tingkat keuntungan yang diharapkan atau expected return tiap saham individual merupakan persentase rata-rata realized return saham i dibagi jumlah realized return saham i.
c. Standar Deviasi (SD) digunakan untuk mengukur risiko dari realized return, yang dapat dihitung dengan proram excel menggunakan rumus STDEV.
d.  Variance digunakan untuk mengukur risiko expected return saham i. Variance dapat dihitung dengan cara, yaitu mengkuadratkan standar deviasi atau dihitung dengan program excel menggunakan rumus VAR atau menggunakan rumus sebagai berikut.
e. Beta adalah risiko untuk dari saham individual, menghitung keserongan (slope) realized return suatu saham dengan realized return pasar (IHSG) dalam periode tertentu. Beta digunakan untuk menghitung excess return to beta (ERB) dan Bj yang diperlukan untuk menghitung Cut-Off Point (Ci).
f. Excess Return to Beta (ERB) digunakan untuk mengukur return premium saham relatif terhadap satu unit risiko yang tidak dapat didiversifikasikan yang diukur dengan Beta. ERB menunjukkan hubungan antara return dan risiko yang merupakan faktor penentu investasi
g.  Nilai Ai dihitung untuk mendapatkan nilai Aj dan Bi dihitung untuk mendapatkan nilai Bj, keduanya diperlukan untuk menghitung Ci. Penentuan nilai Ai dan Bi untuk masing saham ke-i sebagai berikut
h. Titik Pembatas (Ci) merupakan nilai C untuk saham ke-i yang dihitung dari akumulasi nilai-nilai A1 sampai dengan Ai dan nilai-nilai B1 sampai dengan Bi. Nilai Ci merupakan hasil bagi varian pasar dan return premium terhadap variance error saham dengan varian pasar dan sensitivitas saham individual terhadap variance error saham.
i. Persentase proporsi dana (Wi) masing-masing saham pembentuk portofolio optimal dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
j. Correlation atau koefisien korelasi antar saham merupakan perbandingan perhitungan realized return saham A dengan perhitungan realized return saham B dalam suatu periode tertentu. Koefisien korelasi antar dua kelompok data tersebut dihitung dengan program Excel menggunakan rumus Correl atau dengan rumus sebagai berikut.

7. PENGUJIAN HIPOTESIS
Dalam penelitian agar mengetahui perbedaan secara statistik return dan risiko antara saham yang masuk kriteria portofolio, maka dilakukan pengujian hipotesis. Sebelum melakukan uji hipotesis dilakukan uji normalitas data terlebih dahulu dengan menggunakan One-Sample Kolmogrov-Smirnov Test. Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui distribusi data yang digunakan dalam penelitian. Distribusi data penelitian dikatakan normal apabila nilai signifikansi yang dihasilkan lebih besar dari 5%. Apabila nilai signifikansi yang dihasilkan lebih kecil dari 5% berarti distribusi tidak normal. Berdasarkan hasil uji normalitas ditentukan alat uji hipotesis yang akan digunakan. Pengujian dilakukan dengan cara mengelompokkan rata-rata return dan risiko saham menjadi dua, yaitu saham yang masuk dalam kandidat portofolio dan saham yang tidak masuk kandidat portofolio. Setelah itu nilai rata-rata kedua kelompok tersebut  dibandingkan dan dilakukan pengujian dengan kriteria pengujian yang didasarkan pada tingkat signifikansi yang dihasilkan dari output program SPSS versi 14.0. Tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 5% sesuai dengan sumber data sekunder yang digunakan.
Hipotesis 1. Ho: μ0 = μ1, berarti tidak ada perbedaan antara return saham yang masuk kandidat portofolio dengan return saham yang tidak masuk kandidat portofolio. Hi: μ0 ≠ μ1, berarti ada perbedaan antara return saham yang masuk kandidat portofolio dengan return saham yang tidak masuk kandidat portofolio.
Hipotesis 2. Ho: μ0 = μ1, berarti tidak ada perbedaan antara risiko saham antara saham yang masuk kandidat portofolio dengan return saham yang tidak masuk kandidat portofolio. Hi: μ0 ≠ μ1, berarti ada perbedaan antara risiko saham antara saham yang masuk kandidat portofolio dengan return saham yang tidak masuk kandidat portofolio.
Jika probabilitas ≤ 0,05, maka terdapat perbedaan pada return dan risiko saham yang masuk kandidat dan yang tidak masuk kandidat portofolio. Namun jika probabilitas ≥ 0,05, maka tidak ada perbedaan yang bermakna return dan risiko saham yang masuk kandidat dengan yang tidak masuk kandidat portofolio. Melalui pengujian hipotesis yang telah dilakukan disimpulkan bahwa terdapat perbedaan return antara saham yang masuk kandidat dengan yang tidak masuk kandidat portofolio. Selain itu, tidak terdapat perbedaan risiko antara saham yang masuk kandidat dengan yang tidak masuk kandidat.

8. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian yang dilakukan dengan sampel sebanyak 33 saham selama periode tahun 2004-2006 dengan menggunakan model indeks tunggal diperoleh 14 saham kandidat portofolio. Nilai cut-off point yang diperoleh adalah sebesar C* = 0,0241 dengan nilai excess return to beta (ERB) = 0,0165%. Dari perhitungan expected return 33 saham diperoleh hasil sebagai berikut.
a.       Saham dengan expected return tertinggi
E(Ri) CTRS = 0,27 %
E(Ri) UNVR = 0,26 %
E(Ri) AUTO = 0,25 %

b.      Saham dengan expected return terendah
E(Ri) GGRM = -0,008 %
E(Ri) TRST = -0,012 %
E(Ri) TBLA = -0,017 %
c.       Saham dengan risiko tertinggi
SD CTRS = 1,69 %
SD UNVR = 1,59 %
SD AUTO = 1,56 %
d.      Saham dengan risiko terendah
SD ASIII = 0,09 %
SD HMSP = 0,08 %
SD TRST = 0,07 %
e.       Saham dengan ERB tertinggi
ERB AALI = 0,86 %
ERB PGAS = 0,37 %
ERB BLTA = 0,26 %
f.       Saham dengan ERB terendah
ERB GGRM = -0,022 %
ERB HEXA = -0,042 %
ERB AUTO = -0,175 %
Dalam penelitian ini, portofolio optimal dibentuk oleh saham PGAS dan AALI yang mempunyai nilai ERB antar waktu terbesar dan stabil, yaitu nilai ERB AALI = 0,86 % dan nilai ERB PGAS = 0,37 %. Proporsi dana atau komposisi kedua saham pembetuk portofolio optimal adalah sebesar 48,54 % untuk saham AALI dan 51,46% untuk saham PGAS. Expected return portofolio sebesar E(Rp) = 0,072 % dengan tingkat risiko sebesar (σp) = 0,196 % dan nilai excess return to beta sebesar ERBp = 0,61 %. Dalam membentuk portofolio optimal harus diperhatikan koefisien korelasi return antar saham yang membentuk portofolio. Koefisien korelasi antara saham PGAS-AALI adalah sebesar 0,08966. Oleh karena koefisien korelasi antara kedua saham tersebut sangat kecil berarti return antar saham mempunyai kecenderungan perubahan berlawanan arah pada periode waktu yang sama. Dengan demikian, pembentukan portofolio yang terdiri dari kedua saham tersebut sangat efektif mengurangi risiko. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Musnadi, Muhammad dan Sulaiman (2000) yang menyatakan bahwa diversifikasi saham antar industri di BEJ memberikan manfaat yang signifikan kepada investor karena risiko menurun apabila korelasi antar saham pembentuk portofolio rendah.
Untuk mengetahui bahwa portofolio yang terdiri dari saham AALI dan saham PGAS benar-benar optimal, maka perlu dihitung ERB tiap saham dengan menggunakan basis periode per tahun. Hasil perhitungan ERB yang sudah diurutkan (diperingkat) dari nilai ERB terbesar ke nilai ERB terkecil kemudian  dibandingkan dengan ranking ERB tiap saham kandidat yang dihitung menggunakan basis periode tiga tahun. Hal ini dilakukan untuk melihat konsistensi nilai ERB saham pembentuk portofolio yang dihitung dengan basis periode berbeda. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa untuk tiap basis periode waktu nilai ERB tiap saham mengalami perubahan sehingga saham yang menjadi kandidat portofolio juga mengalami perubahan. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi harga saham antar waktu yang menyebabkan perbedaan return saham antar waktu dan selanjutnya menjadikan perbedaan koefisien beta antar waktu. Beta saham yang tidak stabil tersebut akan mempengaruhi nilai ERB tiap saham yang menjadi faktor penentu kandidat portofolio. Hasil perhitungan menggunakan model indeks tunggal dengan basis periode per tahun untuk tahun 2004 diperoleh 7 saham kandidat. Posisi nilai ERB untuk saham AALI berada pada peringkat pertama dan ERB saham PGAS diperingkat kedua. Pada tahun 2005 hanya saham PGAS yang menjadi kandidat portofolio. Sedangkan pada tahun 2006 diperoleh 14 saham kandidat dengan posisi nilai ERB saham AALI pada peringkat pertama dan PGAS pada peringkat kelima. Hal ini menunjukkan bahwa saham AALI dan PGAS merupakan saham paling efisien dengan nilai ERB antar waktu yang tinggi dan stabil Jadi pemilihan saham dalam pembentukan portofolio optimal berdasarkan nilai ERB terbesar sangat tepat digunakan walaupun dengan basis periode waktu yang berbeda.


9. KONTROVERSI
Dalam pembentukan portofolio, koefisien korelasi merupakan salah satu variabel penting. Dalam membentuk portofolio optimal harus diperhatikan koefisien korelasi return antar saham yang membentuk portofolio. Koefisien korelasi mencerminkan kecenderungan perubahan return dan keeratan hubungan return antar saham. Pada penelitian Sukarno (2006) yang telah di review oleh penulis, koefisien korelasi antara saham PGAS-AALI adalah sebesar 0,08966. Oleh karena koefisien korelasi antara kedua saham tersebut sangat kecil berarti return antar saham mempunyai kecenderungan perubahan berlawanan arah pada periode waktu yang sama. Dengan demikian, pembentukan portofolio yang terdiri dari kedua saham tersebut sangat efektif mengurangi risiko. Diversifikasi yang dilakukan berhasil menurunkan risiko dilihat dari risiko portofolio yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan risiko individual saham. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa faktor penting dalam diversifikasi portofolio adalah korelasi yang rendah antar return aset pembentuk portofolio. Semakin rendah koefisien korelasi maka semakin besar pula potensi manfaat dari diversifikasi tersebut. Sedangkan pada penelitian Jatniko (2010) tentang pembentukan portofolio saham pada lima perusahaan plantation terbentuk 3 (dari 5 perusahaan) perusahaan yang memiliki nilai koefisien korelasi dibawah 0,5. Hal ini menunjukkan kecenderungan kenaikan atau penurunan tingkat keuntungan antar saham tidak memiliki hubungan yang kuat.
Nilai excess return to beta (ERB) mencerminkan besarnya return premium yang dapat dihasilkan oleh suatu saham relatif terhadap satu unit risiko yang tidak dapat didiversifikasikan yang diukur dengan beta. Beta mencerminkan volatilitas return suatu saham terhadap return pasar, mengukur systematic risk dari suatu saham relatif terhadap risiko pasar. Dengan demikian berarti masing-masing saham memiliki kepekaan yang berbeda terhadap perubahan pasar. Semakin besar koefisien beta saham berarti semakin peka terhadap perubahan pasar dan disebut sebagai saham yang agresif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sukarno dan Jatniko memilih saham yang memiliki nilai ERB tertinggi yang juga mengindikasikan bahwa saham dengan ERB tertinggi merupakan saham yang paling efisien. Pada kedua penelitian diatas, urutan saham dengan ERB tertinggi memiliki total aset yang tinggi. Perusahaan yang memiliki aset rendah, sahamnya tidak akan masuk pada kandidat portofolio optimal.

10. PENUTUP
Kesimpulan
Penggunaan metode indeks tunggal untuk menentukan portofolio efisien berdasarkan besarnya nilai cut-of-point dan excess return to beta mempunyai kelebihan karena mempertimbangkan juga systematic risk saham yang diukur dengan beta. Saham yang mempunyai koefisien beta antar waktu relatif stabil berarti mempunyai nilai excess return to beta yang relatif stabil juga. Oleh karena itu investor perlu membandingkan nilai excess return to beta tiap saham kandidat dengan basis periode waktu yang berbeda.
Investasi pada saham selalu mengandung unsur risiko, baik unsystematic risk maupun systematic risk. Unsystematic risk dapat dihindari investor melalui diversifikasi, yaitu dengan membentuk portofolio. Sedangkan systematic risk dapat dihindari investor dengan memilih saham-saham yang mempunyai nilai excess return to beta yang besar. Informasi nilai beta dan nilai excess return to beta dapat dimanfaatkan untuk mempertimbangkan alternatif investasi dan mengoptimalkan penyusunan portofolio saham.
“ Portofolio efisien pasti merupakan portofolio yang optimal, namun portofolio yang optimal belum tentu efisien” – Renald Suganda (2012)

Saran
1.      Return saham harus dihitung secara total dengan mempertimbangkan dividen yield.
2.      IHSG yang digunakan sebagai indeks pasar menimbulkan bias karena dalam pembentukan IHSG terdapat saham-saham yang juga tidak aktif. Selanjutnya dapat mempergunakan return risk free rate dan indeks pasar yang lain atau membentuk sendiri indeks pasar tersebut.
3.      Dapat dilakukan perluasan sampel dengan mempertimbangkan sektor industri.
4.      Periode pengamatan seharusnya dilakukan lebih panjang karena saham merupakan salah satu bentuk investasi jangka panjang (minimal 5 tahun).

DAFTAR PUSTAKA
Bawazier, Said dan Jati P. Sitanggang, 1994, Memilih Saham Untuk Portofolio Optimal, Usahawan Tahun XXIII, No.1, Januari, hal 34-40.

Brealey, Richard A. and Stewart C. Myers, 1991, Principles of Corporate Finance, Fourth Edition, McGraw-Hill, Inc. New York.

Brigham, F. Eugene and Philip R. Daves, 2004, Intermediate Financial Management, Eighth Edition, McGraw-Hill, Inc. New York.

Cohen, J.B. Et al, 1973, Investment Analysis and Portfolio Management, Richards D. Irwin Inc. Illinois.

Elton, Edwin J. and Martin J.Gruber, 1995, Modern Portfolio Theory and Investment Analysis, Fifth Edition, John Wiley & Sons, Inc. Toronto, Canada.
Fabozzi, Frank J., 1995, Investment Management, Prentice Hall, New Jersey-USA.

Fama, Eugene F. and Kenneth R. French, 1989, Business Conditions and Expected Return on Stock and Bonds, Journal of Financial Economics, pp 23-49.

Gujarati, Damodar N., 1997, Basic Econometrics, Third Edition, McGraw-Hill Inc.Singapore.

Haroyah, M.Dwi, 2000, Analisis Beta Saham Model Indeks Tunggal:Perbandingan Antara Periode Perekonomian Normal Dan Krisis Moneter, Telaah Bisnis 1, No.1, hal 49-60.

Husnan, Suad, 2001, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi Ketiga, Yogyakarta, UPP AMP YKPN.

Indrawati,V. Maya, 2005, Analisis Investasi Portofolio Optimal Pada Saham, Tesis, Tidak Dipublikasikan, Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Irwin, S.C. and Landa D., 1987, Real Estate, Futures and Gold as Portfolio, The John Wiley & Son, Inc.

Jatnika, Okki, 2010, Analisis Pembentukan Portofolio Pada Lima Perusahaan Yang Bergerak Di Bidang Plantation, Jurnal Ekonomi Universitas Gunadarma 20120, Depok, Jakarta.

Jogiyanto, 2000, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Kedua, Yogyakarta: Penerbit BPFE.

Lintner, John, 1965, Security Prices, Risk and Maximal Gain From Diversivication, Journal of Finanace, pp 587-616.

Markowitz, M. Harry, Michael R.Tobin and A. Lintner, 1967, Portfolio Selection, Journal of Finance and Accounting, pp 111-123.
Musnadi, Muhammad dan Sulaiman, 2001, Analisis Manfaat Diversifikasi Portofolio Saham Antar Industri Di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Manajemen dan Bisnis, Volume III, No.3, hal 245-254.

Sartono, R.Agus dan Sri Zulaihati, 1998, Rasionalitas Investor Terhadap Pemilihan Saham Dan Penentuan Portofolio Optimal Dengan Model Indeks Tunggal Di BEJ, Kelola No.17/VII/1998.

Sudana, I Made dan Miranda Janiarti, 2000, Pengaruh Ukuran Portofolio Terhadap Tingkat Diversifikasi Saham: Perbandingan Antara Portofolio Saham Satu Industri Dengan Portofolio Saham Beragam Industri Di BEJ, Majalah Ekonomi Tahun X, No.1, April, hal 28-42.

Sukarno, Mokhamad, 2007, Analisis Pembentukan Portofolio Optimal Saham Menggunakan Metode Single Indeks Di Bursa Efek Jakarta, Tesis Magister Manajemen Prodi Manajemen Universitas Diponegoro, Semarang.

Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi. Edisi Pertama. Kanisius: Yogyakarta.

Wahyudi, Sugeng, 2005, Aplikasi Metode Single Index Pada Penentuan Portofolio Investasi Tahunan Pada Saham LQ 45 : Studi Pada PT. Bursa Efek Jakarta, Jurnal Bisnis dan Ekonomi Vol.12, No.1.

Weston, J. Fred and Thomas E.Copeland, 1986, Managerial Finance, Eighth Edition, The Dryden Press, New York.

www.e-bursa.com, diakses pada tanggal 12 Desember 2012, pukul 20.15.

No comments:

Post a Comment

Your comment so meaning full for me. thank you:)

Post a Comment